Beranda – Tentang Kami
Pondok Pesantren Mojosari berdiri pada tahun 1710 M, menjadikannya sebagai salah satu pesantren tertua tidak hanya di Kabupaten Nganjuk, tetapi juga di kawasan Pulau Jawa. Pesantren ini didirikan oleh As-Syekh K.H. Az Zahid Ali Imron, keturunan Brawijaya Majapahit dan Syekh Al-Maghribi. Lokasinya berada di Dusun Mojosari, Desa Ngepeh, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk.
Pada tahun 2023, PBNU memberikan penganugerahan sebagai Pondok Pesantren tertua ke-2 di Indonesia yang masih aktif dan eksis hingga kini—sebuah pengakuan atas kiprah panjangnya dalam mencetak ulama, pendidik, dan pejuang Islam di Nusantara.
K.H. Ali Imron, pendiri pesantren, merupakan putra Demang Lawu yang menuntut ilmu di Pondok Bendungan Nganjuk di bawah asuhan Kiai Syekh Salimin, menantu Mbah Arfiyah Awwal Mojoduwur. Setelah menimba ilmu, beliau diperintahkan gurunya untuk mencari tempat “wingit” (angker) guna dijadikan pusat penyebaran Islam.
Dengan tirakat panjang—berpuasa dan hanya berbuka dengan sebutir jagung setiap hari selama 40 hari—beliau berhasil membuka hutan lebat di wilayah Mojosari dan mendirikan pondok pesantren yang kelak menjadi salah satu pusat dakwah dan pendidikan Islam di Jawa Timur.
K.H. Ali Imron wafat pada tahun 1791 M dan dimakamkan di Desa Bendugrejo. Kepemimpinan pesantren kemudian diteruskan oleh para penerus beliau secara turun-temurun:
K.H. Ali Imron (1720–1791 M)
K.H. Abdul Mu’id (1791–1821 M)
K.H. Zainuddin bin Abror (1821–1860 M)
K.H. Nur Muhyidin (1860–1880 M)
K.H. Zainuddin bin Mu’min (1880–1954 M)
K.H. Zaini Shobir bin Shidiq (1954–1957 M)
K. Syamsul Anam bin Zaini (±6 bulan)
K.H. Manshur Sholeh (1958–2006 M)
K.H. Ahmad Basthomi Zaini (1987–2004 M)
K.H. Mujab Mujib (2006–2010 M)
K.H. Muhammad Nasih Basthomi (2010–sekarang)
Di antara para santri ternama yang pernah menimba ilmu di Mojosari adalah Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari, K.H. Wahab Chasbullah, K.H. Abdul Jalil Mustaqim (Tulungagung), K.H. Toha (Bandar Kediri), dan banyak tokoh lainnya.
Memasuki era kepemimpinan K.H. Ahmad Basthomi Zaini (1987–2004 M), Pondok Pesantren Mojosari mulai membuka diri terhadap sistem pendidikan formal.
Atas pesan dari Dr. (H.C.) K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada tahun 1995 M, beliau mendorong agar pesantren menyediakan jalur pendidikan formal agar tetap relevan dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam.
Meskipun sempat menuai pro dan kontra dari sebagian keluarga pesantren yang ingin mempertahankan sistem salafiyyah murni, K.H. Ahmad Basthomi Zaini tetap berkeyakinan bahwa pendidikan agama dan umum harus berjalan seimbang agar santri dapat berkiprah lebih luas di masyarakat.
Untuk itu, beliau mendirikan Yayasan Pendidikan Nahdlatul Ulama (YPNU) pada tahun 1996 M yang menaungi berbagai satuan pendidikan, antara lain:
TK Muslimat NU Khodijah II (1987)
MTs Nahdlatul Ulama Mojosari (1994)
MA Nahdlatul Ulama Mojosari (1998)
SMK Al Basthomi Loceret (2007)
Institut Teknologi Mojosari (2021)
SMK Al Basthomi Loceret merupakan bagian dari lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Nahdlatul Ulama (YPNU) Pondok Pesantren Mojosari, salah satu pesantren tertua di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.
Sebagai bagian dari semangat pembaruan tersebut, SMK Al Basthomi Loceret resmi berdiri pada tahun 2007.
Sekolah ini hadir dengan visi mencetak generasi yang unggul dalam kompetensi kejuruan, berakhlakul karimah, dan berlandaskan nilai-nilai Islam serta Pancasila.
Dengan mengintegrasikan ilmu kejuruan dan nilai pesantren, SMK Al Basthomi Loceret berkomitmen untuk melahirkan lulusan yang beriman, berilmu, dan berdaya guna siap menghadapi tantangan dunia kerja modern tanpa meninggalkan jati diri santri.
Memberikan standar belajar dan pendidikan karakter yang unggul berdasar nilai-nilai Islam dan Pancasila yang luhur.